Senin, 04 Maret 2013

Secangkir Fajar

Awan tipis tersapu angin, seakan handuk terlepas
kurasakan udara selepas hujan di gemas tubuh

Mentari di bingkai jendela
kaukah yang membawanya


Deras sinarnya
seakan darah menderas ke dalam rasa
dalam satu pelukan tuntas.

Senampan fajar kau suguhkan, lentik jemari lincah
tatap matamu tak sanggup kugubah, cium tak sanggup kucegah
hangat menguap pada seduhan teh panas


seputik melati putih menepi di pinggir cangkir
memagutkan wangi di bibir

Dan senyummu
kuseruput tanpa akhir

Cinta bergetar di awal Maret
di bawah lengkung alismata
matahari seakan pulang ke surga

Kuhangatkan diri menyeruput senyum
pada sketsa hatimu yang mengambang
di secangkir fajar yang rembang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar